Batang, Bertempat di Aula Pendopo Kabupaten Batang telah dilkasanakan Sosialisasi dan Dukungan Kemensos RI dalam rangka Penertiban Lokalisasi di Kabupaten Batang,Rabu (23/1/19)
Hadir dalam acara Asisten I Retno Dwi irianto, Dandim 0736/Batang diwakili oleh Lettu Kav Siswoyo, Kapolres di wakili oleh Kabagopspolres Kompol Hartono SH.Kadinkes Batang Dr.Hidayat basbeth, Kadinkes Pemda Batang, Kapolsek Limpung, Kepala Satpol PP, perwakilan dari Desa Penundaan dan Banyu putih.
"Menyampaikan yang disampaikan oleh dinas Kesehatan, Kemsos(Kementrian Sosial)mengalokasikan dana sekitar 5.5 juta per psk. Permintaan dr perwakilan agar yang di sekitar juga beri semua, biar tidak ada kecemburuan sosial. Sosialisaasi sudah di tempuh melalui pendataan. Batang ad 7 titik lokalisasi, ada yang lokasi dan ada yang lokalisai. Seperti Penundan, banyu putih, Mboyong sari, Bong cino, Wuni, Jerakah payung, Pulo mencawak itu adalah lokasi ranah milik Pemda. Njetol sari milik perhutani di tutup habis oleh Pak Yoyok Sudibyo(Bupati pada masa itu). Wali sudah di tutup mereka tetap kos di pandaran, mereka masih aktif sebagai PL, PSK atau online.
Contoh untuk Kabupaten Kendal belum di terapkan, mereka masih akan studi banding. Para pekerja sek komersial yang ada di wilayah Batang tidak semuanya berasal dari Batang akan tetapi ada yang pendatang, sekitar 50% dari pendatang dan dari Batang sendiri sekitar 50%. Para mucikari juga sudah memantauan anak buahnya melalui tes kesehatan, juga pelatihan untuk PSK." Ungkap pak Hasan dari FKPP.
Dari Kades penundaan yang di wakili oleh stafnya menyampaikan beberapa hal." 1.Semua pihak yang sepakat baik dari Kemensos, PP, Kementerian daerah, kita harus melihat permasalahan sosial, ekonomi. Bagaimana juga profesi, walau tidak baik. Kita lihat dari sisi kemanusiaannya. Yang jelas kami siap mengikuti aturan-aturan tentang penertiban lokalisasi. Di penundaan 166 rumah adalah hak milik warga, apabila di bubarkan akan dampak terhadap ekonomi. Intinya mendukung program ini, mudah mudahan menjadi wasilah, kedepannya nya Batang menjadi wilayah yang lebih baik.
2.ketrampilan-ketrampilan apa yang akan di berikan kepada para PSK.
3.Dampak sosial ke lingkungan agar di pikirkan dan di cari solusinya." Ungkapnya.
Asisten I Bapak Retno Dwi Irianto menyampaikan, " melalui pendekatan humanis jadi tidak bentrok dengan warga, dengan komunikasi membenahi bersama, dengan penutupan akan di alih fungsikan seperti menjadi sekolahan.
Beliau menyimpulkan 1. bahwa penutupan lokalisasi Penandan, Banyu putih bebas dari lokalisasi. 2.perlu ada sosialisasi dan ferifikasi data psk, mucikari, ekonomi yang akan memberikan jalan keluar. 3.pembekalan dari Pemda. 4. harapan kita sebelum pemilu sudah selesai, awal februari sosialisasi ke tempat-tempat tersebut." Tuturnya.(Pen-0736)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar